tak seindah mimpi

Terkadang apa yang dijalani tak seindah yang diimpikan, tak segampang yang dibayangkan, tak semudah yang terucap, tak seindah mimpi. Berkali-kali hampir menyerah dengan keadaan. Berkali2 hampir melepas komitmen itu, hampir berusaha meniadakannya. Karena emang terlalu sulit untuk dijalani. Bukan tanpa pertimbangan melontarkannya, justru karena berbagai pertimbangan lah keputusan itu terucap. Dan ketika dijalani, ternyata semua berbatu dan berkerikil tajam. Goyah, pincang, tak tahu arah. Mengapa jalannya tidak mulus?!

Sejauh ini semua bisa terlewati, tapi apakah segampang itu?! Tidak! Melangkah aja harus tertatih dan berpegangan. Pegangan pada kayu. Tidak kokoh. Karena yang kokoh yang sedang dihindari. Karena kalau terlalu lama bertahan pada yang kokoh, akan semakin sulit melepasnya. Jalannya yang tidak rata, atau kaki yang pincang??

Sebuah nama kembali terlintas. Nama yang sama, dengan pelafalan yang telah hafal di luar kepala. Sebingkai lukisan wajah menyertai pelafalan nama itu. Namun kini tak semulus dulu pelafalannya. Ada nada getir setiap pengucapan, setiap penulisan dan setiap penglihatan pada lukisan wajah itu. Sketsa yang dulu tertata rapi, bersih kini  mulai  dibiarkan berdebu.  Teronggok di sudut ruangan hati.  Tapi tak pernah sepenuhnya teronggok di sudut. Karena dalam periode tertentu selalu dibersihkan sedikit, di usap sedikit, di semprot sedikit..cuma sedikit.. Namun sedikit itu menjadi kebiasaan. Tak sepenuhnya bisa terlepas. Ohhh mengapa begitu sulit??

Sementara berjalan tertatih dan berpegang pada sepotong kayu, angin bertiup lembut mengenai wajah ayu. Sejenak terlena, tapi tak lama. Angin sepoi cukup membuat tawa merekah di bibir sang ayu. Lembut, pelan, dalam. Terhenti sejenak, dan menguatkan pegangan pada kayu. Menebarkan pandangan ke sekeliling. Terlihat merekah indah di kiri kanan. Sambil memendarkan pandangan, tangan tetap berpegang pada kayu. Jalan pertama terlalui, ketika siang hari. Malam menjelang, pegangan perlu di eratkan. Perlu pegangan yang kokoh. Angin malam menjadi semakin dingin. Berdiam justru membuat semakin dingin. Ingin berpegangan pada yang kokoh. Namun resiko tak ingin di hadapi. Terpaksa tetap berjalan, berpegang pada kayu yang sedikit rapuh. Perlahan-lahan..

Perjalanan masih panjang, terbentang. Terkadang kaki ragu untuk melangkah. Tangan ragu untuk mengiring perjalanan. Dan hati serasa tak ingin ikut. Namun kesadaran membuat segalanya berubah. Bila kayu tak mampu menahan, sedang yang kokoh juga berdiam, apa lagi yang harus dipertahankan? Lebih baik terus melangkah dan mencari pohon lain. Angin sepoi akan terus ada menemani perjalanan. Bisa di ajak ngobrol mengisi waktu dan menghibur hati.

Sang ayu kembali tersenyum. Busur bibirnya melebar ke kiri dan kanan. Memang perjalanan yang akan ditempuh mungkin tidak seindah mimpi, mungkin tidak seperti yang diharapkan. Tapi kalau tidak pernah mencoba untuk melangkah, sang ayu tak akan tahu akan menemui apa di depan sana. Yang kokoh mungkin akan tertinggal di belakang, masih mencari petunjuk jalannya. Masih merangkai dan mengamati sekeliling. Atau bisa juga sudah menempuh jalan lain untuk menunggu sang ayu di depan sana. Perjalanan mungkin berbeda, dengan akhir yang berbeda. Atau sebaliknya. Perjalanan berbeda dengan tujuan yang (ternyata) sama. Yang jelas, meskipun tak seindah mimpi, sang ayu harus tetap melangkah.. hingga ke titik akhir..

dedicated to : ’sang ayu’—jangan menyerah yaaaa!!!

‘yang kokoh’—percaya hatimu

Leave a Comment